In Between
Kenapa postingan ini gue kasih nama “In Between”, karena gue sadar dengan sesadar-sadarnya, gue itu orang yg hybrid,
nah loh ris!kenapa hybrid ?! lobisa kawin sama tumbuhan maupunhewan bagitu? apa lo bisa kawin sama cewek ato cowok ?
Kenapa postingan ini gue kasih nama “In Between”, karena gue sadar dengan sesadar-sadarnya, gue itu orang yg hybrid,
nah loh ris!kenapa hybrid ?! lobisa kawin sama tumbuhan maupunhewan bagitu? apa lo bisa kawin sama cewek ato cowok ?
Enam hari telah mengalir
Dengan aliran yang kian buatku cintai pagi
Pagi dimana sang surya kan selalu sinari senyum teduhmu
Pagi dimana udara sejuk kan menyapa semangatmu tuk kembali maknai hariku
Pagi dimana langkah elokmu kan selalu derapkan hatiku dan hangatkan ia kembali
Aku sadar bahwa pada awalnya rasa hanya sebuah rasa
Ia bisa terdiam, kemudian terhanyut oleh ribuan kata-kata indah penghangat qalbu
Namun aku lebih sadar bahwa aku hanyalah manusia, yang kan lebih bernyawa dengan tiupan cinta
Lewat puisi ini, kuukir dengan sederhana tuangan damai rasa cinta yang ku punya
Untukmu (Nama Seseorang)
Regard to my friend who share his galau-ness at Aspirint 2011
Yang aku tahu, harapku kan selalu menguatkanku akan arti kata cinta yang kian menari dianganku ditiapmu menyentuh jemariku
Yang aku tahu, putih akan selalu putih ditiap lisan menyapa kejujuran disaatmu sandarkan lekuk wajah manismu pada pundakku yg terhampar lelah
yang aku tahu, sang waktu pun tak tega usik harapku padamu, akan ketidakpastian yang waktu kan beri pada detik-detik panjang yang nanti kan berlalu
Yang aku mau hanya, detik-detik panjang ini kan berlalu dengan hanya bersamamu hingga surya tak kunjung datang
Aku ingin terus mencintaimu dengan sederhana
Layaknya matahari yang setia tuk menyandang langit hingga Sang Pencipta tak menghendakinya
Aku ingin sang waktu mengangguk setuju bahwa kamu kan terus jadi pelengkap ketidaksempurnaanku.
Pagi ini gue bangun dengan Alarm tepat pukul jam 05.00, muncul dari hape gue dua pilihan “Dismiss” dan “Snooze (15 min.)” layaknya anak kosan yg, mengatasnamakan kehidupan kosan yg sedih, yg apa2 harus istirahat, karena capek HUHUHUHU, pastinya gue milih Dismiss Snooze (15 min.) Akhirnya gue melakukan hal yg paling nikmat di pagi hari, yg kalo kata temen gue kenikmatan dunia (tidur di pagi hari), dan gue bangun. Pandangan gue yg mulai ga tercakup dalam 1 layar kecil berukuran kurang lebih 4 x 5 cm itu, mulai ngeliat potret kehidupan, yaitu berantakkannya kosan gue, kaos kaki bertebaran, kaset CD masih di dalem lemari(Syukurlah), dan hal-hal lain yg menurut lo mungkin itu ga seharusnya diletakkan disitu (tapi menurut gue, itu cuma
A right thing,
in wrong placewhich fall form it’s place
). haha! Beranjak dari tempat tidur, gue mulai membuka jendela kebiasaan gue di kampung kota halaman gue yg gue lakukan saat bangun tidur. Dan abis itu gue melakukan ibadah subuh. Terbersit di pikiran gue untuk ngelihat hasil kerjaan gue di facebook semalem yg …
Sekolahku sore ini menunjukkan maknanya
Senyum riang teman-teman, sahabat-sahabat
Wajah mereka berseri, terlukis kebahagiaan di gurat lekukan senyumnya
Gerbang kini telah setengah menutup, di tengah keraguan
Curi tatapku padanya, yang telah kubukakan jendela putih rumah kejujuranku
Rintihan piring berdencing terpukul memanggil hasrat lapar yg melengking
Gemuruh bunyi mesin kendaraan menjemput langkah-langkah kelelahan
Langkah-langkah pahlawan pembawa inspirasiku terdengar kian mendekat, menjauh
Lidi-Lidi Tersapu, Terngiang, Menggoreskan nada mendesir di telingaku
Tiupan angin sejuk yang seakan memuji potret nurul fikri sore itu
Akankah lukisan ini terkenang ?
Tergantung pada bingkai,
Pemanis? Pemahit?
Nurul Fikri 16.23 22-03-2011
Aku ingin berbicara
Aku hanyalah tulisan terasing
Hasil pengutaraan budak dengan mata sayu, kosong
Juluran tersudut oleh takut dan terhimpit oleh ragu
Buah iri kepada mereka yang di atas panggung emas
Yang leluasa mengalirkan ribuan ucapan bermakna
Aku hanyalah kekosongan tanpa perantara
Terlalu lama bercumbu pada kebingungan
Disaat mereka mengambilkan cahaya bintang
Memberikan jalan padamu kearah awan
Mengalirkan ribuan sari-sari inpirasi berkilau
Aku yang hanya sebuah kehampaan bergeming tapi tak bergerak
By : Faris Ksatrianto
Kiniku di ujung ambang, berpegangan pada belukar kesabaran.
Anganku terus teguh, tetap, memegang
Diriku gamang untuk terlepas, terhisap ke dalam ke fanaan dunia
Aku semakin tampak layu, diujung
Tergoda untuk terlepas, namun aku terberkah rangkaian anganku
Yang menari-nari dengan nada hangat nan-indah
Yang lekuk senyumnya tersinar oleh sang raja siang
Aku ingin kuat
berpegangan diujung kesabaranku
by : Faris
Tak ada air yg sanggup menghapus dahaga hatiku ini
Tak ada hijau yang dapat tumbuh digurun perasaanku ini
Aku terombang-ambing oleh angin tandus savanna
Pandangan mata qalbuku mengabur oleh Kristal-kristal pasir yang mengapur
Bahkan kata “hampa”pun tak sanggup mewakili putaran belukar gurun ini
Matahari kini tak lagi menyinari kosongnya gundukan tak berarti dari anganku
Sesungguhnya aku tak ingin semua itu terhapus ombak begitu saja
Namun, memang hatiku yang tersumbat penyesalan tak dapat bicara
Kelu akan kata-kata penggambar semua kehangatan dan gelisah yg kualami
Oh sungguh aku menyesal
Selepas memercikan kesejukan itu pada tempat yg tak semestinya
Oh sungguh tak ada selimut maaf untukku
Yang telah menusuk, memberikan kepedihan padamu
Hanya retorika kesedihan yang tersisa di benakku
Sangat ber-harap …
By : Ga”Faris”Lau
Setapak demi setapak kita telah melangkah
Tangga-tangga impian yang kita nantikan
Dentuman-dentuman cobaan bersahutan
Merasukan tak menentunya keraguan
Namun, kita tetap melangkah hiraukan pasrah
Sungguh, masa masa yang indah
Sesaat apiku pudar, terhembus angin yang tak lagi tenang
Tapi kalian jaga apiku dengan limpahan kebersamaan
Kini tangga-tangga itu hampir tersimpang
Terpisahkan singkatnya titian waktu
Kuharap perjalanan ini terekam
Terisi oleh ukiran nada sejuk persahabatan
regard to my friends. by : Faris Ksatrianto
Etosha National Park, Namibia (by Stephen Rahn )
(Source: rorschachx)